Kamis, 02 Mei 2013

Rumpon Menetap, Mampu Atasi Masalah Nelayan



Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) belakangan ini sangat dirasakan berat oleh nelayan yang sebagian besar tinggal di pelosok-pelosok pedesaan dan jauh dari fasilitas infrastruktur public ; seperti jalan raya, transportasi, komunikasi dan sarana lainnya yang memadai. Akibat dari terbatasnya insfrastruktur tersebut menyebabkan harga BBM di pusat-pusat kegiatan nelayan jauh lebih tinggi dari kenaikan harga BBM standar nasional yang ditetapkan oleh pemerintah dan menyebabkan sebagian besar usaha nelayan terancam gulung tikar.

“Kurangi dan hentikan kebiasaan berburu dan mulailah kebiasaan memanen ikan" adalah kata kunci bagi nelayan untuk meminimalisir kebutuhan BBM yang mencapai 80% biaya operasional melaut per tripnya. Pada dasarnya ikan dan biota laut lainnya menyenangi kawasan terumbu karang yang kondisinya masih baik, perairan yang tidak tercemar, tersedia cukup sumber bahan makanan, terlindung, aman dari predator maupun gangguan dari lingkungan lainnya. Apabila semua persyaratan tersebut dipenuhi oleh suatu wilayah perairan laut, maka dapat dipastikan wilayah laut tersebut kaya akan sumber daya ikan.

Pertanyaan penting buat nelayan tradisionil adalah apakah mereka bisa memetakan suatu wilayah perairan laut mana yang masih kaya akan sumber daya ikan tersebut ?. Sudah barang tentu untuk nelayan dengan armada kapal ikan modern, yang dilengkapi dengan peralatan canggih dapat mendeteksi keberadaan sumber daya ikan tersebut. Bagi nelayan tradisional atau skala usaha kecil hal itu sudah dapat dipastikan tidak bisa dan biasanya hanya mengandalkan insting dan tanda-tanda alam.

Di wilayah pesisir, kita dapat dengan mudah menemukan berbagai jenis alat tangkap ikan yang dipasang secara stasioner oleh nelayan seperti; ambai, jermal, bubu rumpon dan beberapa jenis alat lainnya. Kegiatan nelayan dengan menggunakan alat tangkap stasioner tersebut dapat dikatakan sebagai kegiatan upaya memanen ikan. Karena ikan datang dengan sendirinya dan terkumpul atau terperangkap di dalam alat tangkap tersebut. Dalam kurun waktu tertentu setelah dianggap cukup banyak, baru nelayan menangkap atau memanennya. Pada umumnya nelayan pengguna jenis alat tangkap ini tidak terlalu dipusingkan dengan kenaikan harga BBM dan masih dapat survive melanjutkan usahanya dan banyak diantara mereka yang hidup layak.

Berdasarkan hasil penelitian, metode penangkapan ikan dengan bantuan rumpon yang dipasang di perairan laut sudah terbukti sangat membantu menghemat BBM hingga 30% dan meningkatkan ikan hasil tangkapan nelayan. Rumpon adalah salah satu bentuk habitat ikan tiruan yang terbuat dari berbagai macam bahan, seperti berasal dari daun pohon kelapa, ranting-ranting pohon, bambu, balok-balok beton, ban bekas atau dari bahan lainnya yang dibenamkan di dalam kolom air dan sifatnya menetap atau dapat dipindahkan. Metode penggunaan rumpon dapat dengan mudah diaplikasikan oleh nelayan karena bahan pembuat rumah buatan untuk ikan ini relatif murah dan gampang ditemukan oleh nelayan. Disamping itu dengan memasang rumpon-rumpon tersebut, nelayan sudah diuntungkan dengan memiliki daerah penangkapan ikan yang jelas dan tetap, sehingga kebutuhan BBM akan mudah diprediksi dan lebih hemat.

Ada banyak manfaat dan keuntungan diperoleh jika nelayan menggunakan jenis alat tangkap ikan stasioner atau menangkap ikan dengan bantuan rumpon seperti; kerusakan lingkungan dapat ditekan karena jenis-jenis alat tangkap ikan stasioner ini memiliki sifat ramah lingkungan, mendidik nelayan untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan pesisir, biaya operasional melaut lebih kecil, ikan hasil tangkapan lebih segar dan tidak banyak rusak dan dapat dijadikan sebagai sarana rekreasi memancing yang sangat mengasyikkan bagi masyarakat perkotaan di akhir pekan. Disamping itu dengan adanya bangunan-bangunan alat tangkap ikan stasioner di sepanjang pantai juga membantu pemerintah dalam hal meningkatkan kemampuan pada aspek pertahanan dan keamanan nasional.

Untuk dapat mengaplikasikan model pengelolaan perikanan tangkap dengan menggunakan alat tangkap ikan stasioner atau menggunakan bantuan rumpon yang diperuntukkan bagi nelayan tradisional, tentunya membutuhkan studi kelayakan (feasibility study) terlebih dahulu dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti; faktor ekologi lingkungan pesisir yakni tetap memperhatikan kepentingan daerah konservasi atau daerah perlindungan ikan, karakter pantai, faktor teknis dan sumber daya manusianya sendiri. Dengan dukungan studi kelayakan ini diharapkan diperoleh informasi teknis yang akurat mengenai kesiapan dan ketrampilan nelayan, jenis alat tangkap ikan stasioner yang cocok sesuai kondisi wilayah pesisir dan karakter pantainya, dan di wilayah perairan mana saja dapat dijadikan daerah pemasangan rumpon-rumpon tersebut.

Untuk wilayah pesisir Sumatera Barat sendiri berdasarkan pengamatan penulis, banyak wilayah yang dapat dikembangkan sebagai daerah pengembangan perikanan dengan alat tangkap ikan stasioner dan alat tangkap ikan dengan bantuan rumpon guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir khususnya nelayan.**

32 Tahun Universitas Bung Hatta, Harapan dan Tantangan



 Peringatan Dies Natalis ke 32 Universitas Bung Hatta, artinya telah 32 tahun kelahiran perguruan tinggi yang di kelola oleh Yayasan Pendidikan Bung Hatta yang yang pengelolaan sekarang telah disesuaikan dengan Undang Undang Yayasan No 16 Tahun 2006 serta diketuai oleh Prof.Dr.Fachri Ahmad. Penulis memberikan sedikit catatan sebagai alumni dan karyawan di Universitas Bung Hatta yang mungkin ada nilainya, baik bagi masyarakat, mahasiswa, tenaga pengajar dan pengelola perguruan tinggi yang menyandang nama besar Proklamator ini

Di usianya yang ke-32, Universitas yang mulanya berkampus di Ulak Karan, terus mengembangkan kampusnya di kawasan Gunung Pangilun dan di Aia Pacah Jl.ByPass.  Usia yang seharusnya telah matang dan boleh dikatakan tidak muda lagi. Tetapi kehadirannya sebagai sebuah universitas swasta terkemuka dan punya mahasiswa yang banyak di Sumatera Bagian Tengah sudah tampil  mengesankan.

Saya masih ingat tahun 1990 dulu, ketika saya bertanya-tanya dan membeli formulir pendaftaran, ada anekdot dari beberapa orang senior yang berpakaian ala tentara, tentara kampus tersebut sambil berseloroh mengatakan,”Asal bisa masuk Universitas Bung Hatta di Padang, biarlah tidak lulus Perguruan Tinggi Negeri di Jambi dan Riau”. Rasanya ungkapan tersebut terlalu berlebihan, tetapi itu sudah menunjukkan posisi Universitas Bung Hatta di mata masyarakat pada masa itu. Barangkali di mata masyarakat UBH dapat dikatakan telah menjadi Universitas Swasta papan atas di Pulau Sumatera.

Tidak sedikit dana yang telah di investasikan oleh Yayasan Pendidikan Bung Hatta dan pimpinan Universitas untuk memenuhi dan meningkatkan kualitas tenaga pengajar. Secara matematis hasilnya memang telah tampak. Tenaga pengajar tetap telah mendekati angka 95 % berkualifikasi S2 dan S3 yang tersebar di 7 fakultas. Demikian pula halnya untuk tenaga administrasi dari S1 dan S2 pun cukup banyak

Tetapi dengan bertambahnya tenaga pengajar dengan kualifikasi S2 dan S3 setiap tahun, kualitas perkuliahan otomatis jadi tinggi ?. Persoalannya menurut saya tidak lah sesederhana itu. Banyak factor yang saling terkait, mulai dari suasana kampus, sistem perkuliahan dan pelayanan terhadap mahasiswa maupun administrasi, penjaringan calon mahasiswa akan sangat mempengaruhi kemauan dan tingkat kecerdasasan mahasiswa itu sendiri, sampai pada kiat dan daya tarik dosen atau tenaga pengajar itu sendiri.

Dosen yang menjadi kebanggaan mahasiswa, menjadi idola, biasanya dosen yang adil, berdisiplin, tidak arogan, berwawasan tinggi, mampu mempertimbangkan pentingnya human relationship dalam memotivasi mahasiswa.

Cukup banyak didengar adanya mahasiswa yang membuang-buang umur dan biaya, tanpa mampu mencapai prestasi yang memadai sebagai mahasiswa. Tampaknya yang terpenting adalah status mahasiswa dan dibangga-banggakan pada keluarga dan orang di kampung, meski mereka tahu telah menipu diri sendiri dan orang tua mereka.Biasanya mahasiswa yang punya prestasi buruk, yang punya kepribadian terbelah atau frustasi, sering menutupi kelemahannya dengan sikap dan prilaku yang radikal dan ekstrim. Seringkali mahasiswa yang vokal, berprestasi, dan tekun kuliah, tidak berdaya mengontrol ataupun bertindak menghadapi tingkah polah segelintir mahasiswa yang radikal dan ekstrim tersebut.

Catatan ini perlu diungkapkan, agar kita juga bisa memahami apa kendala yang dihadapi oleh pimpinan universitas dan pimpinan fakultas dalam mengurus mahasiswanya. Gejolak-gejolak di kampus bisa mulai dicetuskan oleh mahasiswa yang radikal dan ekstrim tersebut, atau oleh dosen yang arogan atau oleh pelayanan dosen itu sendiri terhadap yang diajarnya, demikian juga halnya dengan administrasi yang amburadul.

                                                            *********

Universitas merupakan wadah untuk menyiapkan sumberdaya manusia yang mampu memberikan jasa karena keahlian, karena ketrampilan, karena kecerdasan dan akal budinya. Lulusan universitas jelas bukanlah menyiapkan tenaga buruh kasar, tetapi jasawan yang punya etos kerja tinggi dan punya kepribadian yang teguh, terpuji dan ketrampilan yang tinggi. Tampaknya sampai hari ini Universitas Bung Hatta belum lagi sepenuhnya menyadari posisinya dan perannya di masa datang.

Berbagai pusat studi dan dan pusat kajian telah berdiri, Jurnal-jurnal ilmiah telah banyak diterbitkan. Tetapi lebih banyak “hanya tertulis di brosur atau liflet” tidak beberapa pusat kajian tersebut yang terdengar gaungnya.

Dosen-dosen Universitas Bung Hatta harus memperlihatkan keunggulannya sebagai peneliti, sebagai penelaah berbagai bidang ilmu pengetahuan dan berbagai aspek kehidupan, terutama masalah-masalah actual.

Teori-tori baru hendaknya sudah harus lahir dan muncul dari kampus Universitas Bung Hatta. Universitas ini akan menjadi terhormat dan punya integritas yang tinggi. Tetapi para pakar yang mampu menemukan teori-teori baru, hanyalah yang mau berfikir, mau bekerja keras, yang mau melakukan penelitian dengan tekun dan tidak kenal lelah.

Adakah Universitas Bung Hatta punya obsesi menjadi universitas terhormat dan punya integritas yang tinggi?, atau hanya cukup jadi universitas swasta yang popular, punya mahasiswa banyak, punya kampus megah, gaji/honor dosen dan karyawannya tinggi dan mungkin saja sebenarnya layak dinilai dengan dollar ?. Jawabnya terpulang pada civitas akademika Universitas Bung Hatta. Dirgahayu Universitas Bung Hatta !.

 
Penulis adalah :
Alumni Fakultas Perikanan, dan karyawan Universitas Bung Hatta

Senin, 11 Februari 2013

Ekowisata Berbasis Penyu, Di Pesisir Selatan, Padukan Kepentingan Ekonomi dan Ekologi

Sebagai satu-satunya kawasan konservasi penyu di Pulau Sumatera Pemkab Pesisir Selatan (Pessel), Sumbar, akan membuka objek wisata penyu bertelur untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara, sekaligus sebagai upaya pelestarian hewan tersebut dari ancaman kepunahan. Pulau ini ditetapkan sebagai kawasan pusat konservasi melalui SK Bupati Pessel pada Maret 2006 dengan payung hukum UU No.31/2004 tentang perikanan. "Konsep wisata tersebut sedang susun dan diharapkan segera terealisasi menjadi objek baru yang menarik untuk dikunjungi wisatawan," ujar Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumbar, Ir. Yosmeri di Painan, Pessel seperti yang dikutib dari Antara beberapa waktu yang lalu.

Sebenarnya bagaimanakah pengembangan yang paling baik bagi ekowisata penyu laut ini agar bisa memadukan kepentingan ekonomi dan ekologi? .Padahal ekowisata berbasis penyu dianggap menjadi piranti yang tepat sebagai sumber pendapatan alternatif berdasarkan Rencana Aksi Nasional Konservasi Penyu Laut pada tahun 2001 (RAN-2001).

Ekowisata berbasis penyu laut tepat diterapkan di Perairan Sumatera Barat, khsususnya di Pesisir Selatan. Selain akan membuat Pesisir Selatan menjadi destinasi wisata dengan keunikan tersendiri, ekowisata berbasis penyu juga akan berperan penting dalam melestarikan kekayaan hayati. Hal itu diungkapkan Kasubdin Penangkapan Dinas Perikanan Pesisir Selatan, Ir. Edwil ,di sela-sela kuliah Konservasi dan Rehabilitasi Habitat Perairan, Pesisir dan Kelautan Pascasarjana UBH, Sabtu (1/8-07) kemarin, mendukung gagasan Yosmeri yang sampai saat ini masih sebagai kepala Dinas Perikanan Pessel.

Menurutnya, perairan Indonesia dikaruniai enam spesies dari tujuh spesies penyu laut yang masih tersisa di bumi. Namun, seperti halnya di negara-negara lain, populasi yang ada di Indonesia juga tidak luput dari ancaman kepunahan. Peraturan pemerintah (PP) untuk melindungi keberadaan penyu laut ini pun agaknya tidak mempan untuk menurunkan dan mencegah terjadinya perdagangan penyu dan telurnya. Bahkan, karena tingginya perhatian internasional terhadap satwa yang masuk dalam Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) Apendix 1.

Dari kaca mata industri pariwisata, Perairan Sumbar khususnya Pesisir Selatan relatif masih perawan dan belum tersentuh eksploitasi mega proyek seperti yang dialami Bali. Dengan kekayaan yang cukup lestari, Pessel lebih gampang memulai dan mengembangkan ekowisata dibandingkan Bali. Ekowisata ini menjadi penting karena sejumlah pulau di daerah ini sebagai daerah peneluran dan penetasan penyu laut.

''Tiap upaya konservasi penyu laut berpeluang besar memperoleh perhatian dan dukungan dari dunia internasional. Exspose di tingkat global, tentunya akan sangat menguntungkan bagi industri pariwisata Sumatera Barat,'' kata Edwil seraya menambahkan, ekowisata berbasis penyu pun menjadi lahan subur sumber pendapatan alternatif masyarakat.

Pada dasarnya pengambilan penyu dan telurnya secara untuk diperdagangkan, sebaiknya jangan. Sebab, menurut Manajer Konservasi Penyu Laut World Wildlife for Nature (WWF) drh. IB Windia Adnyana, Ph.D., keunikan siklus hidup penyu laut sangat menjanjikan untuk dijadikan daya tarik pariwisata. ''Makin tingginya kesadaran masyarakat dunia terhadap lingkungan, kebutuhan untuk menikmati objek wisata yang ramah lingkungan makin besar,'' paparnya. Dikatakan Windia, aktivitas yang sifatnya konvensional seperti pengamatan aktivitas perkawinan saja sudah mampu menarik minat wisatawan. Apalagi, jika kemasannya memadai dan bernilai jual tinggi, tentu paket-paket wisata penyu laut ini akan makin diminati. Saat ini beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Filipina dan Australia sudah berhasil mengembangkan ekowisata penyu laut,(dari berbagai sumber).

Sejalan dengan RAN-2001, pengembangan ekowisata berbasis penyu sudah mulai dilakukan di beberapa daerah yang menjadi tempat pendaratan penyu, di antaranya di Taman Nasional Meru Betiri (TMNB), Kepulauan Derawan, Tanjung Benoa dan Serangan (Bali) serta Sukabumi. Namun, berdasarkan data dari berbagai sumber , belum ada satu daerah pun yang berhasil memadukan kegiatan pariwisata dan ekologi dengan memuaskan. Padahal, dengan melihat makin menurunnya populasi penyu yang ada di Indonesia, upaya tersebut sangat penting untuk dilakukan.

Rencana ekowisata berbasis penyu di Pesisir Selatan ini sebagai wisata penyu bertelur sejalan dengan ditetapkannya Pessel sebagai pusat konservasi penyu di wilayah Indonesia bagian Barat oleh pemerintah. Terkait penetapan itu, di Pulau Karebak Ketek Pessel kini telah dibangun berbagai fasilitas penangkaran penyu dan melestarikan pantai-pantai di pulau itu sebagai tempat penyu bertelur. Selain fasilitas penangkaran, juga telah dibangun dua unit rumah penginapan untuk wisatawan yang datang. Pembangunan kawasan konservasi dan dipadukan objek wisata tersebut didanai dengan dana APBN 2006 mencapai Rp1 miliar. Pulau Kerabak Ketek dengan luas sekitar empat hektar juga telah dibebaskan Pemkab Pessel dari pemilik ulayatnya dengan dana pembelian sebesar Rp200 juta pada tahun 2006.

Menurut Yosmeri rata-rata ada satu hingga tiga ekor induk penyu yang bertelur di pulau tersebut tiap malamnya. Angka ini relatif kecil mengingat satu ekor penyu betina bisa menghasilkan telur sekitar 100 butir. Meski dari segi populasi cenderung menurun, sektor pariwisatanya cukup menjanjikan. Kegiatan tersebut secara tidak langsung meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

Edwil juga menambahkan bahwa program penangkaran yang dilakukan di Pulau Karabak berjalan cukup baik. Terjadi peningkatan jumlah penyu betina yang mendarat, jumlah telur serta jumlah tukik yang berhasil ditetaskan dan dilepaskan ke laut. Diakuinya, selama ini Dinas Perikanan Pessel baru melakukan ekowisata secara terbatas, karena pada mulanya kegiatan penangkaran tersebut belum ada maksud untuk dikembangkan sebagai atraksi pariwisata. Namun, melihat tingginya potensi keuntungan ekonomi dari kegiatan wisata alam ini, DKP berencana akan meningkatkan kegiatan yang sifatnya pariwisata dengan tetap memperhatikan lingkungan.

Agaknya penanganan penyu laut sebagai ekowisata perlu dilakukan secara berkoordinasi, tidak mungkin membangun ekowisata di lokasi-lokasi peneluran, karena di beberapa pulau-pulau kecil lainnya di perairan Sumatera Barat juga terdapat lokasi tempat penyu bertelur. Sehingga pengembangan industri pariwisata yang memadukan ekonomi dan ekologi bisa tercapai. Dalam hal ini, pemerintah pusat pun mempunyai peran yang sangat sentral mengingat diperlukan peraturan-peraturan yang lebih tegas untuk mengurangi adanya perdagangan penyu secara ilegal. Jadi melalui pengembangan ekowisata berbasis penyu yang melibatkan semua stake holders keinginan untuk memanfaatkan penyu secara ekstraktif bisa dikurangi, bahkan dihentikan. Kegiatan ekowisata ini sekaligus juga memberikan dana bagi pengawasan dan pembudidayaan penyu laut tersebut.

Gugusan Pulau-Pulau Kecil, Mampu Hadang Laju Gelombang Tsunami

Dari segi fisik maka pulau-pulau kecil memiliki sumberdaya alam daratan yang sangat terbatas, sedangkan sumberdaya alam laut dan jasa lingkungan yang disediakan olehnya jika dikelola sebaik mungkin akan berguna menunjang kesejahteraan masyarakat yang hidup di dalamnya secara berkelanjutan.

Menurut pembentukannya, pulau-pulau kecil dapat terbagi menjadi dua tipe yaitu pulau oseanik dan pulau kontinental. Lebih lanjut lagi, pulau oseanik dapat digolongkan atas dua kategori yaitu pulau vulkanis dan pulau karang (pulau datar). Umumnya pulau-pulau kecil di Indonesia memiliki karakteristik biogeofisik yang tersendiri sebagai berikut (Bengen 2004).

Seiring dengan kekuatiran masyarakat akan datangnya bencana tsunami yang hingga kini tetap menyelimuti warga Kota Padang. Gugusan Pulau-Pulau kecil sepanjang pantai Pesisir Selatan sampai pantai Pariaman, merupakan bentengnya daratan dan mampu mengurangi dampak becana Tsunami jika terjadi. Gugusan pulau-pulau kecil itu akan mampu memecah gelombang tsunami, dan mengurangi kecepatannya menuju daratan jika hal itu terjadi.

Tercatat sekitar 185 pulau-pulau kecil (termasuk Kep.Mentawai) yang melindungi daratan sepanjang pantai Pesisir Selatan sampai pantai Air Bangis-Pasaman. Dari 185 pulau-pulau kecil tersebut, lima diantaranya, letaknya sejajar dalam Kawasan Taman Wisata Perairan Pulau Pieh dan sekitarnya yang akan berfungsi menjadi benteng secara alami jika bencana tsunami terjadi.

Berdasarkan data terbaru dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UBH, kelima pulau tersebut adalah Pulau Bando seluas 7.2 Ha dengan jarak ke daratan Sumatera 27.9 KM, Pulau Pieh seluas 10.7 Ha jarak ke daratan 26.3 Km, Pulau Pandan 4.7 Ha sejauh 14.7 KM, Pulau Air 16.6 Ha jaraknya ke daratan 23.6 Km dan Toran seluas 28.3 Ha, jaraknya kedaratan Sumatera 22.7 KM. Jika bencana tsunami terjadi, kelima pulau tersebut bisa berfungsi menghadang kekuatan kekuatan laju gelombang tsunami dan ketinggiannya.

Pada bagian lain disebutkan juga, bahwa berdasarkan hasil survey terbaru, kondisi terumbu karang di kawaan taman wisata perairan Pulau Pieh tersebut jauh menurun bila dibandingkan dengan data survey yang pernah dilakukan pada tahun 1994, 1997,2002, 2007 dan data terkini tahun 2010.

Diduga turunnya kondisi terumbu karang di kawasan itu selain bencana alam dan bleaching akibat blooming alga merah yang terjadi tahun 2000, di sinyalir saat ini masih terjadi penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak maupun racun.

Sementara untuk Kota Padang sendiri terdapat 19 pulau-pulau kecil yang membentenginya yakni : Bintagur, Sikuai, Sirandah, Pasumpahan, Sibonta, Sironjong, Sinyaru, Setan, Setan Kecil, Kasik, Ular, Toran, Bindalang, Pisang, Pandang,Pasir Gadang,Pisang Ketek, Sao dan Pulau Air.

Mengingat pentingnya fungsi pulau-pulau tersebut sebagai bentengnya daratan, disamping menjaga terumbu karang di dasar laut, di daratan pun perlu menjaga ekosistim pantai seperti hutan mangrove. Hutan Mangrove terbukti mampu mengurangi dampak gelombang tsunami seperti yang pernah terjadi di Aceh.

Untuk itu diperlukan juga perhatian semua pihak untuk meningkatkan pengawasan guna mengatasi penurunan kerusakan tersebut dan merehabilitasi kembali dengan metode-motode yang telah dilakukan di berbagai negara. (http://bunghatta.ac.id/artikel/308/gugusan-pulau-pulau-kecil-mampu-hadang-laju-gelomb.html)

Minggu, 10 Februari 2013

On Kick Andy

http://www.youtube.com/watch?v=xI5JHhQN1rc

Mak Kari Apau, Pembuat Biola dari Agam

(dimuat harian Singgalang, Kamis, 1 November 2012, halaman 2)

Tidak banyak yang tahu jika di Dusun Padang Jariang, Kenagarian Kotohilalang, Kecamatan Ampek Angkek Canduang-Agam terdapat perajin biola. Hasil karyanya juga sempat di bawa pemesan dan pembeli ke beberapa propinsi bahkan sampai ke Pulau Kalimantan.

Jemari tangannya tidak selincah ketika dia masih relatif muda. Namun, kepiawaiannya menggesek tongkat biola pada dawai, walau sedikit stelan dawainya sumbang, masih tersisa dalam dirinya memainkan beberapa lagu Minang. Itulah H.Fauzi Kari Mangiang (76), warga Dusun PadangJariang, Kotohilalang Kab.Agam.
Warga lebih mengenal dia dengan sebutan Mak Kari Apau, karena selama lebih dari 20 tahun Mak Kari menjadi Imam di salah satu Mesjid di Dusun Lundang, dan 3 tahun terakhir Mak Kari juga diminta sebagai Imam di Mesjid Jihad PadangJariang Kotohilalang.

Mak Kari mungkin satu-satunya yang di ketahui memiliki keterampilan membuat biola di Kabupaten Agam, bahkan di Sumatera Barat.  Kendati secara teknis keterampilannya juga bersinggungan dengan segmen kerja kerajinan. Bahkan di depan rumah Mak Kari sendiri berdiri sebuah usaha perabot dan dan perkayuan yang dikelola anaknya sendiri.

 Apalagi biola yang dibikinnya bukan menggunakan alat modern, melainkan memakai alat pertukangan yang semuanya, menggunakan alat-alat sederhana, seperti pahat,kapak,penokok,pisau dan pahat ukir.
Mak Kari Apau,  mengaku tidak pernah belajar khusus membuat biola, ia awalnya hanya menjiplak motif sebuah biola dengan kertas minyak yang biasa digunakan untuk layang-layang.

Nalurinya seakan membimbingnya untuk membuat alat gesek serupa, sejak umur 12 tahun Mak Kari telah menyukai alat musik tersebut, bahkan sejak usia itu ia telah memainkan dawai alat musik yang badannya berpinggang ramping dan ujung lehernya melengkung itu dilakukan secara otodidak.

“Karena saya pernah juga bekerja di perabot, saya yakin bisa membuat, soal berbunyi atau tidak, sebelumnya saya juga tidak yakin” ujar Mak Kari memulai kisahnya.
”Kadang juga lupa makan, karena asyik bermain biola” ujarnya setelah memainkan lagu Minang yang berjudul “cogok mancogok”.

Ia mengisahkan, dulunya ia bergabung dengan orkes Gambus Nizam di Lundang dengan biola pinjaman. Biola pinjaman tersebut pun awalnya dari biola rusak yang dia perbaiki, lama-kelamaan biola tersebut diminta lagi oleh pemiliknya dan tidak boleh di pinjam lagi.

Kemudian ada orang yang menawarkan beberapa biola-biola rusak, dengan bekal itu Mak Kari menciplak desainnya dan dengan modal sebagai tukang perabot dia yakin pasti bisa membuat sendiri.
“Setelah selesai ternyata bisa berbunyi, tinggal hanya mencari nadanya”, ujar Mak Kari lagi.

Kemudian sejak itu dari mempermak dan memperbaiki biola rusak. Tahun 80-an Mak Kari selalu tampil memperkuat sebagai pemain biola dengan orkes Gambus Fatuhul Club Baso.

Ayah dari 6 putra dan 4 putri dengan 30 orang cucu tersebut, tahun 2003 pergi menunaikan ibadah haji dan sejak itu pula, Mak Kari pensiun juga sebagai pemain biola.

”Selain sudah jarang undangan untuk orkes gambus, mungkin karena masa sekarang orang lebih cendung dengan orgen tunggal, juga faktor usia”, tambah Mak Kari.

Yang diingatnya, sudah sekitar 50-biola yang dibuatnya,  selain mendapat pesanan, ada juga beberapa biola buatannya yang dibawa anak dan ponakannya ke rantau orang.

“Apapun jenis dan judul lagu, saya bisa iringi dengan biola, asal ada orang yang menyanyikannya, meski saya tidak tahu apa judulnya” imbuhnya lagi.

Katanya, pernah ada sebuah operator travel wisata yang membawa wisatawan singgah ke kediamannya dan diantaranya ada pemain biola. Mereka memesan biola, yang dijual rata-rata Rp 1 juta sampai 1,5 juta. Satu biola diselesaikan selama 15-20 hari.

Daya tarik karyanya, kecuali bentuknya yang tidak kalah dengan buatan luar negeri, juga dikerjakan dengan tangan menggunakan peralatan sederhana, seperti pahat,kapak,penokok,pisau dan pahat ukir, dan alat lain yang dibuatnya sendiri.

Bahannya pun terdiri atas kayu lokal pilihan, berupa kayu surian, cempaka, dan kayu-kayu pilihan lainnya.
“Sekarang yang sedang dikerjakan dari bahan “ruyuang” (kayu dari pohon aren) dan yang telah selesau dari kayu batang kelapa, yang dari batang kelapa, suaranya cukup mantap”, Kata Mak Kari sambil menunjukkan biola dari batang kelapa.

Semua kayu-kayu tersebut sebelumnya dipotong sesuai peruntukannya, kayu-kayu itu dilem. Sedangkan pada tongkat penggesek biola dibikin dari benang atau bahan-bahan alami seperti dari pandan, atau kulit tebu dan lainnya.

Dulu, Mak Kari mengaku kerap kewalahan memenuhi pesanan, karena dia tidak punya pegawai. Sayangnya dalam beberapa tahun terakhir ini, seiring dengan semakin sedikitnya kelompok musik gambus, sudah tidak ada lagi yang datang untuk dibuatkan alat musik.

Kini hampir beberapa dekade sudah Mak Kari melayani pesanan biola. Dia mengaku memang belum ada yang  ”mempublikasikan”. Meski order sepi, Mak Kari tetap sediakan bahan-bahan biar, kalau sewaktu-waktu ada pesanan langsung bisa dikerjakan.

"Kadang memang masih ada yang datang, namun hanya untuk service biola atau alat musik yang lain," ungkap Mak Kari sambil memainkan biola mendendangkan Dinda Bestari...hati tenang melamun, oh dinda juwitaku...ingat beta riwayat yang dulu.. (**Indrawadi).

Penyelam Diving Proklamator Universitas Bung Hatta, membersihkan transplantasi karang