Selasa, 11 Maret 2014

Kabut Asap Pun Ancam Terumbu Karang

Asap di udara dan terumbu karang didasar laut, tetapi keduanya akan saling mempengaruhi dalam proses kehidupan. Ancaman kabut asap semakin parah menyelimuti sebagian Pulau Sumatera, tidak terkecuali pesisir pantai sepanjang pantai barat Sumatera.

 Kondisi itu dikhawatirkan dapat mematikan ekosistem terumbu karang di pantai barat Sumatra. Terumbu Karang adalah hewan yang berasosiasi dengan tumbuhan, untuk pertumbuhannya terumbu karang melakukan fotosintesis. Proses fotosistesis itu sendiri sangat dipengaruhi oleh tersedianya cahaya matahari yang cukup sebagai "pembakar" atau energi.

Kita ambil perumpamaan misalnya kawasan perairan Kota Padang, sudah lebih dari satu bulan ditutupi oleh asap diatasnya, lalu sinar matahari tidak dapat menembus perairan, maka secara langsung maupun tidak langsung mengganggu proses fotosistesis terumbu karang. Pada kondisi yang lebih parah lagi adalah ketika bencana asap disertai dengan kondisi kemarau yang berkepanjangan akibat El Nino, suhu peraiaran menjadi naik.

Dan akibat kenaikan suhu yang cepat ini, maka terumbu karang mengalami pemutihan (bleaching) dan akhhirnya mati. Terumbu karang mati maka sumberdaya lain yang berkaitan dengannya akan terganggu seperti halnya ikan karang. Akhir tahun 2000, terjadi kematian massal terumbu karang di kawasan pantai Sumbar. Penyebabnya kabut asap.

Kabut asap yang menutupi sinar matahari ke dalam laut, memicu berkembangnya fitoplanton alga merah. Biota tersebut dikenal berbahaya karena dapat mematikan spesies lain, termasuk terumbu karang. Blooming fitoplanton itu telah mematikan seluruh terumbu karang di laut Sumbar hingga Sumut. Butuh waktu bertahun-tahun untuk recoverynya. Sejak tahun 2000 hingga sekarang, pertumbuhan terumbu karang baru sekitar 35 persen.

Jika terjadi blooming lagi, kondisinya akan kembali nol. Pertumbuhan terumbu karang itu sangat lambat. Hanya 2,5 cm per tahun, dan kita harus menunggu paling cepat 20 tahun untuk melihatnya. Pertumbuhan kembali atau recovery itu terjadi baik secara alamiah maupun ilmiah (bantuan manusia). Alamiah karena terjadi transplantasi alami yang kemudian tumbuh tunas-tunas baru dalam jangka waktu cukup panjang untuk menjadi dewasa.

Karenanya, jika kabut asap terus berlanjut hingga tiga bulan ke depan, blooming fitoplanton dikhawatirkan dapat terjadi lagi. Kita tidak tahu, kapan kabut asap kiriman itu kapan akan berakhir, tergantung dari upaya pemerintah provinsi tetangga untuk menyelesaikan penyebab kebakaran hutan di daerah mereka.

Rabu, 16 Oktober 2013

Gugusan Pulau-Pulau Kecil, Mampu Hadang Laju Gelombang Tsunami

Dari segi fisik maka pulau-pulau kecil memiliki sumberdaya alam daratan yang sangat terbatas, sedangkan sumberdaya alam laut dan jasa lingkungan yang disediakan olehnya jika dikelola sebaik mungkin akan berguna menunjang kesejahteraan masyarakat yang hidup di dalamnya secara berkelanjutan. Menurut pembentukannya, pulau-pulau kecil dapat terbagi menjadi dua tipe yaitu pulau oseanik dan pulau kontinental. Lebih lanjut lagi, pulau oseanik dapat digolongkan atas dua kategori yaitu pulau vulkanis dan pulau karang (pulau datar). Umumnya pulau-pulau kecil di Indonesia memiliki karakteristik biogeofisik yang tersendiri sebagai berikut (Bengen 2004). Seiring dengan kekuatiran masyarakat akan datangnya bencana tsunami yang hingga kini tetap menyelimuti warga Kota Padang. Gugusan Pulau-Pulau kecil sepanjang pantai Pesisir Selatan sampai pantai Pariaman, merupakan bentengnya daratan dan mampu mengurangi dampak becana Tsunami jika terjadi. Gugusan pulau-pulau kecil itu akan mampu memecah gelombang tsunami, dan mengurangi kecepatannya menuju daratan jika hal itu terjadi. Tercatat sekitar 185 pulau-pulau kecil (termasuk Kep.Mentawai) yang melindungi daratan sepanjang pantai Pesisir Selatan sampai pantai Air Bangis-Pasaman. Dari 185 pulau-pulau kecil tersebut, lima diantaranya, letaknya sejajar dalam Kawasan Taman Wisata Perairan Pulau Pieh dan sekitarnya yang akan berfungsi menjadi benteng secara alami jika bencana tsunami terjadi. Berdasarkan data terbaru dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UBH, kelima pulau tersebut adalah Pulau Bando seluas 7.2 Ha dengan jarak ke daratan Sumatera 27.9 KM, Pulau Pieh seluas 10.7 Ha jarak ke daratan 26.3 Km, Pulau Pandan 4.7 Ha sejauh 14.7 KM, Pulau Air 16.6 Ha jaraknya ke daratan 23.6 Km dan Toran seluas 28.3 Ha, jaraknya kedaratan Sumatera 22.7 KM. Jika bencana tsunami terjadi, kelima pulau tersebut bisa berfungsi menghadang kekuatan kekuatan laju gelombang tsunami dan ketinggiannya. Pada bagian lain disebutkan juga, bahwa berdasarkan hasil survey terbaru, kondisi terumbu karang di kawaan taman wisata perairan Pulau Pieh tersebut jauh menurun bila dibandingkan dengan data survey yang pernah dilakukan pada tahun 1994, 1997,2002, 2007 dan data terkini tahun 2010. Diduga turunnya kondisi terumbu karang di kawasan itu selain bencana alam dan bleaching akibat blooming alga merah yang terjadi tahun 2000, di sinyalir saat ini masih terjadi penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak maupun racun. Sementara untuk Kota Padang sendiri terdapat 19 pulau-pulau kecil yang membentenginya yakni : Bintagur, Sikuai, Sirandah, Pasumpahan, Sibonta, Sironjong, Sinyaru, Setan, Setan Kecil, Kasik, Ular, Toran, Bindalang, Pisang, Pandang,Pasir Gadang,Pisang Ketek, Sao dan Pulau Air. Mengingat pentingnya fungsi pulau-pulau tersebut sebagai bentengnya daratan, disamping menjaga terumbu karang di dasar laut, di daratan pun perlu menjaga ekosistim pantai seperti hutan mangrove. Hutan Mangrove terbukti mampu mengurangi dampak gelombang tsunami seperti yang pernah terjadi di Aceh. Untuk itu diperlukan juga perhatian semua pihak untuk meningkatkan pengawasan guna mengatasi penurunan kerusakan tersebut dan merehabilitasi kembali dengan metode-motode yang telah dilakukan di berbagai negara.

Kamis, 04 Juli 2013

Publikasi Ilmiah Tentang Gempa dan Tsunami, Tidak Untuk Ditakuti

Publikasi  Ilmiah Tentang  Gempa dan Tsunami, Tidak Untuk Ditakuti
Oleh: Indrawadi,S.Pi
Humas UBH dan Pegiat JJSB (08126732774)

Pasca gempa dahsyat di sertai tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 lalu, membuat para ahli-ahli gempa dan tsunami dunia semakin intensif melakukan penelitian akan potensi gempa-gempa selanjutnya di wilayah Sumatera.

Ironisnya, sebagian masyarakat menganggap, publikasi dari hasil-hasil penelitian tersebut justru menjadi kabar yang sangat menakutkan. Pada hakikatnya publikasi penelitian para ahli tersebut sangat penting untuk dikabarkan kepada seluruh masyarakat yang tinggal di kawasan yang rawan bencana untuk dijadikan sebagai langkah awal dari langkah-langkah apa yang harus dilakukan dalam rangka mitigasi bencana.

Saya masih ingat dan pernah membaca tentang publikasi akan  terjadinya gempa dahsyat di kawasan pantai Barat Sumatera (khususnya Sumatera Barat dan Bengkulu). Diprediksi bahwa terdapat potensi gempa yang diakibatkan energi yang terakumulasi di patahan benua yang terletak di sebelah Barat kepulauan Mentawai. 

Potensi akan terjadinya fenomena alam ini sudah dapat dipastikan. Yang masih tidak terjangkau oleh ilmu pengetahuan sampai saat ini adalah prediksi yang lebih akurat menyangkut kapan akan terjadinya peristiwa dahsyat tersebut. 

Hasil penelitian Profesor Kerry Sieh dari California Institute of Technology (sekarang Direktur Earth Observatory of Singapore, Nanyang Technological University) dan  Danny Natawidjaja  pakar geoteknology dari LIPI menyangkut hal tersebut telah disiarkan secara luas dalam publikasi ilmiah maupun di media masa, baik  di luar negeri maupun di Indonesia sendiri. 

Dalam rangka mitigasi bencana, hal inipun telah disampaikan kepada masyarakat dan menjadi bagian dari skenario pelatihan yang telah dilakukan bagi masyarakat Padang. 

Sebagian besar masyarakat tampak telah memahami dan sadar akan potensi bahaya gempa yang dapat memicu tsunami ini, yang tampak dari reaksi spontan masyarakat yang segera menuju lokasi-lokasi yang dinilai aman terhadap bahaya tsunami, segera setelah gempa terjadi.

Kini, ketika kita semakin mengakui pentingnya ilmu-ilmu alam, kebumian, baik juga dipikirkan cara untuk mengembangkan minat. Jangan sampai ironi yang ada sekarang ini berkepanjangan, di mana negara di Cincin Api hanya memiliki sejumlah kecil ahli. Mereka bekerja di sejumlah lembaga pendidikan dan penelitian seperti ITB, UGM, LIPI, dan BPPT.

Dengan frekuensi berita gempa yang tinggi akhir-akhir ini, terungkap pula sejumlah istilah dan teori fundamental dalam geologi, seperti intensitas gempa dalam skala Richter dan tentang lempeng tektonik.

Sebagaimana studi tentang hutan, iklim, atau vulkanologi, ilmuwan ahli gempa Indonesia punya peluang besar untuk berkontribusi dalam sains yang hebat ini karena Indonesia sering disebut sebagai laboratorium alam yang unik. Sumbangan ilmiah ini maknanya tidak saja sebatas pemerkayaan ilmu pengetahuan, tetapi juga terkait dengan masa depan manusia.

Karena yang bisa diketahui baru wilayah mana yang akan terancam gempa dalam kurun 20-30 tahun mendatang, sebenarnya pekerjaan sudah menanti untuk menyiapkan segala sesuatunya. Tujuannya tidak lain untuk meminimalkan potensi kerusakan akibat gempa.

Mari kita sambut tantangan ilmu geologi untuk semakin memahami Bumi dan segala aktivitasnya. Kita yakin, dengan semakin bertambahnya ahli gempa, akan semakin nyaring suara yang mengingatkan bangsa Indonesia untuk selalu siaga menghadapi pergerakan lempeng tektonik jauh di bawah sana.

Selasa, 14 Mei 2013

Penyu-Penyu Itu Menangis ?


Penyu-Penyu Itu Menangis ?
Oleh : Indrawadi,S.Pi

Meski sudah dilindungi, penyu-penyu tetap ditangkap, dibunuh dan dimakan dagingnya. Indonesia di sorot dunia International karena banyak mengonsumsi telur dan daging penyu hijau. Namun karena permintaan akan telur dan dagingnya terus meningkat, maka perburuan liar pun tetap terjadi terhadap hewan yang bergerak lambat ini.

Masih banyak orang sulit mebedakan antara penyu dan kura-kura. Itu tidak mengherankan, karena kura-kura dan penyu memang saudara sepupu. Secara awam semua hewan berkaki empat, tubuh dilindungi tempurung keras, kepalanya bisa dimasukkan kedalam tempurungnya, disebut kura-kura.Penyupun disebut kura-kura laut, seperti salah satu narasi terjemahan film mengenai penyu yang disiarkan TPI belum lama ini.

Sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu hewan laut yang memiliki banyak kelebihan, terutama dagingnya yang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Di negeri Cina, daging penyu yang telah di olah dengan berbagai ramuan digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Bahkan beberapa mereka ada yang mengelola minyak hewan ini sebagai obat kecantikan.

Di Bali permintaan akan kebutuhan daging penyu sangat tinggi, daging-daging penyu tersebut dijadikan sate atau lawar yang merupakan jenis masakan yang paling digemari disana. Dalam satu hari saja ratusan ekor penyu dibantai dan diburu untuk memenuhi permintaan rumah-rumah makan dan restoran yang menyediakan masakan tersebut. Maka tak heran bila saat ini populasi penyu di daerah tersebut menurun drastic. Salah satunya yaitu di Pulau Sarangan atau lebih popular dengan sebutan Pulau Penyu yang merupakan daerah habitat penyu dan strategis untuk pengembangannya, kini terancam karena populasi hewan ini terus merosot dan terancam punah.

Di Sumatera Barat, pada beberapa buah pulau yang terdapat disepanjang pantai peraiarn Sumbar, populasi hewan ini perlu juga di khawatirkan akan kelestariannya. Tapi tidaklah separah daerah-daerah lain, karena di Sumatera barat perburuan terhadap hewan ini relatif tidak ada, tetapi justru permintaan akan telurnya yang relatif tinggi. Hal ini dapat dilihat di Sepanjang pantai Muara Padang, banyak telur penyu yang diperjual belikan baik mentah maupun yang sudah dimasak.

Sebenarnya di daerah ini upaya untuk melindungi hewan ini dari kepunahan sudah ada, sudah ada upaya untuk itu, salah satunya di Pulau Penyu perairan Pesisir Selatan, yaitu dengan melakukan penangkaran penyu secara alami dan semi alami dengan cara tidak mengambil semua telur –telur penyu yang baru saja bersarang dan bertelur. Kemudian dari pihak pergruan tinggipun telah juga dilakukan penelitian oleh mahasiswa Fak.Perikanan Universitas Bung Hatta untuk membudidayakan hewan ini, salah satu caranya adalah mencoba memberikan pakan tambahan pada tukik-tukik penyu tersebut sebelum dilepaskan, kemudian juga dilakukan pemagaran sarang-sarang penyu tersebut dengan waring agar telur-telur tersebut tidak dimakan oleh biawak atau hewan lain. Saat ini saja berdasarkan informasi pengelola pulau Tim peneliti dari Puslitbang Perikanan UBH telah ada lebih kurang 2000 dari 6.500 rencana anak tukik yang ditangkarkan sebelum dilepaskan. Menurut sebuah iklan yang gencar di iklankan Bali Post, seekor penyu memerlukan waktu 30 tahun untuk menjadi dewasa dan sipa berkembang biak, dan bahwa hanya 1 dari 1000 ekor anak penyu yang mempunyai kesempatan untuk hidup sampai dewasa karena keganasan alam, termasuk didalamnya keganasan manusia.

Siklus Hidup

Berdasarkan catatan para ahli, penyu bisa hidup hingga umur 60 tahun. Kemana saja selama 60 tahun itu ?. Penyu berkembang biak denngan bertelur dan memerlukan waktu 15 – 30 tahun untuk menjadi dewasa dan siap kawin serta bertelur. Jika sampai waktunya untuk kawin, penyu dewasa betina maupun jantan akan menuju perairan dangkal. Mereka akan bertelur di pantai asal mereka pertama kali masuk kelaut. Dengan penuh perjuangan penyu betina akan naik ke pantai berpasir dan sepi dari manusia, menggali lubang sedalam hingga 45 centimeter untuk tempat bertelur.

Saat berada di daratan, ketika menggali lubang, tampak penyu seperti menangis. Apakah karena capai ?. Selama hidupnya penyu hidup dilaut lepas, menyerap banyak garam dari makanan maupun air yang diminumnya. Penyu memiliki kelenjar garam di pelupuk matanya yang berfungsi mengeluarkan kelebihan garam. Ketika kelenjar tersebut megeluarkan garam terlihat selintas seperti air mata. Selesai bertelur yang bisa beberapa kali dalam satu musim, penyu betina tersebut kembali alamnya mencari makan, dan akan kembali lagi bertelur ketempat semula. Rata-rata satu lubang akan diisi 100 butir telur sebesar bola pingpong, dan akan menetas setelah 55 hari. Biasanya telur menetas pada malam hari. Tukik-tkik tersebut rata-rata berukuran 3 – 5 centimeter dan berlomba-lomba keluar dari pasir menuju laut. Sejak mulai dari menetas sampai di dalam laut bahaya sudah mengancam. “Dari seribu tukik yang menetas hanya satu yang berkesempatan menjadi penyu dewasa,” ujar Ketut Sarjana Putara ahli penyu dari Wordl Wide Fund for Nature Indonesia Wallacea Programme.

Sejak menetas tukik-tukik akan mencari makan tidak jauh dari pantai tempatnya menetas. Sampai saat ini para ahli penyu belum mengetahui persis siklus hidup panjang penyu-penyu itu. Tidak ada yang tahu kemana penyu-penyu kecil itu pergi antara 5-20 tahun. Buktinya, saat tim peneliti melakukan penyelaman tidak pernah menemukan punyu-penyu muda. Penyu-penyu tampak lagi ketika sudah dewasa, ketika sampai saatnya akan berbiak lagi. Jadi penyu-penyu yang bertelur sekarang ini adalah penyu-penyu yang menetas 30 tahun lalu.

Terancam Punah

Setiap tahun, ribuan penyu hijau di bawa ke Tanjung Benoa, Bali Selatan. Penyu-penyu itu dijual untuk dimakan. Pada tahun 1991, sebanyak 24.157 ekeor penyu dipotong yang berukuran di atas 60 centimeter. Sejak itu jumlah penyu yang dibawa ke Bali menurun, tahun 1998 tercatat 6.987 ekeor penyu yang masuk keTanjung Benoa. Padahal Gubernur Bali telah menetapkan paling bayak hanya 5.000 ekor saja penyu-penyu itu boleh ditangkap.

Selain ditangkap, penyu-penyu yang tidak bisa membela diri itu juga tergusur oleh manusia. Pantai-pantai tempat penyu bertelur telah dirobah menjadi tempat turis asing atau local untuk berjemur dan mejdai hotel-hotel berbintang.

Sudah ditangkap, dimakan dagingnya, tergusur dari pantai, telurnaypun diambil. Meskipun sudah ada PP Nomor 7 dan 8 tahun 1999 yang melindungi semua jenis penyu, namun perburuan terhadap hewan ini terus berlanjut. Kini populasi penyu itu sudah menurun, jika tidak dihentikan perburuan dan pengambilan telur yang berlebihan dalam waktu dekat penyu ini akan punah. Bayangkan penyu-penyu itu menangis ketika di potong dan ambil telurnya.

Catatan: Tulisan ini ditulis tahnun 2008, dan telah di terbitkan Harian Singgalang

Jumat, 10 Mei 2013

PENANGKAPAN IKAN DENGAN BAHAN PELEDAK LEBIH BURUK DARIPADA PENGGUNDULAN HUTAN



Penangkapan ikan dengan bahan peledak dan racun, dua alat yang dipergunakan ini menurut studi  adalah metode penangkapan ikan komersial yang sangat merusak kegiatan mahluk hidup di dasar laut yang kami rangkum dari berbagai sumber

Membandingkan teknik penangkapan ikan dengan proses pembabatan hutan, adalah  sebuah laporan yang di publikasikan dalam Jurnal Ilmu Pengetahuan Conservasi Biologi (The Scientific Journal Conservation Biology), memperingatkan tentang  struktur kehidupan dasar laut dapat menjadi  rusak yang sama rusaknya dengan  hutan di darat.

Seperti juga hutan, dasar laut merupakan  suatu ekosistem yang kompleks yang menyediakan hewan-hewan /habitat dan makanan pokok  untuk terus bereproduksi dan tumbuhnya ikan dan kehidupan laut lainnya. Pengeboman di laut telah merusak sruktur dasar laut – yang dapat memakan beberapa dekade dan beberapa abad untuk dapat memulihkan nya seperti sediakala. “setiap pengeboman maka bunga karang, remis/kepiting, rumah-rumah cacing laut dan binatang-binatang air yang berkulit keras, yang hidup di areanya yang seharusnya tidak terganggu sekarang telah hampir punah seluruhnya”.  Kata Les Watling, Profesor Oceanografy dari University Of Maine dan satu dari beberapa penulis study. “ Tidak ada satu mahkluk dilaut yang tidak terkena dampak fisik dari pengeboman dasar laut”.

Ketika struktur dasar laut seperti bunga karang dan terumbu karang telah musnah misalnya maka ikan, kepiting, ikan bintang laut, dan cacing-cacing serta seluruh habitat mereka hilang dan akan mati hal ini dapat dijelaskan secara ilmu pengetahuan. Begitu keanekaragaman habitat dasar laut hilang akibat trawl  maka besar lah alasan kenapa  begitu banyak ikan –ikan  yang  berkurang di dunia.

“Banyak spesies ikan yang membutuhkan habitat lain yang spesifik agar dapat bertahan hidup, walaupun ada sebahagian lain dari ikan yang mudah untuk bertahan hidup dalam habitat yang tidak kompleks”. kata Auster. Satu studi menunjukkan contoh dimana anak-anak ikan bertahan hidup dalam habitat laut dengan stuktur dasar laut yang lebih kompleks.

Walaupun kekurangan informasi, para ilmuan telah mulai mengajak/menghimbau dari pihak pemerintah dalam  sebuah jaringan kerja untuk melindungi daerah di laut – seperti daerah tempat dilindunginya kehidupan satwa liar dimana di daerah itu  dapat diadakan penjagaan, dan membiarkan ikan bertelur, merawat habitat ikan dan kehidupan laut lainnya.

Untung Rugi Penangkapan Ikan dengan Bahan Peledak


 Terumbu karang di Indonesia tersebar hampir di seluruh kepulauan yang berjumlah 17.508 dengan garis pantai lebih kurang 81.000 km. Luas terumbu karang di Indonesia diperkirakan mencapai 75.000 km2 yang terletak di 371 lokasi. Di lokasi-lokasi tempat terumbu karang tersebut berada, dari 41,78% yang terukur, yang mengalami kerusakan di antaranya adalah 28,30% berada dalam keadaan rusak berat; 23,72% dalam keadaan kondisi baik; dan hanya 6,2% yang berada dalam kondisi sangat baik (Soekarno, 1997).

     Untuk mengetahui potensi terumbu karang di bidang perikanan, Indonesia belum memiliki data yang dapat dijadikan acuan. Hal seperti ini dapat dilihat dari data negara tetangga kita, misalnya Philippina. Untuk terumbu karang yang kondisinya masih baik (persen karang hidup > 50%) dapat menghasilkan ikan (termasuk jenis ikan dan non ikan) sebanyak 36 ton/km2 nya /tahun. Jadi total potensi terumbu karang tersebut sekitar 810.000 ton/tahun. Sementara itu untuk terumbu karang yang kondisinya telah rusak hanya menghasilkan lebih kurang 10% nya (Gomez et al., 1994). Berdasarkan angka ini, andaikata total dari terumbu karang di Indonesia 30% berkondisi baik, berarti luas terumbu karang yang dapat dianggap produktif seluas 22.500 km2.

     Di kawasan ASEAN terumbu karang mempunyai peran yang sangat menonjol, karena sekitar 60% protein yang diperlukan penduduk berasal dari hasil perikanan dan sekitar 10-15% hasil tangkapan tersebut berasal dari terumbu karang (Gomez 1988; Gomez dan Chou,1994).

     Selain itu dapat juga digambarkan kerugian yang diakibatkan oleh kerusakan yang dialami oleh terumbu karang akibat pemanfaatan yang merusak lingkungan, seperti penangkapan ikan yang menggunakan bahan peledak atau bahan beracun. Menurut Herman Cesar (1996) penangkapan ikan dengan racun sianida hanya memberikan keuntungan sebesar -33.000 US$/km2 terumbu karang dalam jangka waktu 25 tahun, tetapi kegiatan ini akan menimbulkan kerugian bagi negara akibat menurunnya hasil tangkapan ikan dan pariwisata sebesar 43.000-476.000 US$/km2/tahun. Manfaat yang didapat oleh perorangan dari penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledakhanya sekitar US$ 15.000/km2, tetapi kerugian yang dialami negara akibat menurunnya hasil perikanan, hilangnya fungsi perlindungan pantai dan pariwisata mencapai 98000-761.000 US$/km2/tahun.

     Di sisi lain keuntungan yang di dapat dari coral mining oleh individual adalah sekitar 121.000 US$/tahun, sedangkan kerugiannya adalah 176.000-903.000 US$/tahunnya. Hilangnya fungsi pelindung pantai menyebabkan kerugian untuk kembali membangun pelindung pantai tersebut sekitar 193.000 US/km. Sekarang pilih yang mana ???

Indrawadi,S.Pi
Mahasiswa Pascasarjana PSP2K UBH